Muballigh Muda

Bulan Ramadhan kemarin merupakan bulan puasa yang berkesan buat saya. Selain karena sebulan penuh bisa puasa bersama keluarga – beberapa tahun sebelumnya tidak pernah full sebulan di rumah, apalagi tahun kemarin puasa full di rantau – saya diajak untuk membantu mengisi sebuah pengajian di salah satu masjid yang ada di bilangan Jalan Swadaya, daerah Kekalik Jaya. Mataram.

Ternyata saya dijadwal untuk mengajar muda mudi atau remaja usia SMP/SMA, walaupun beberapa ada juga yang sudah kuliah. Saya diperbantukan untuk membacakan atau tadarusan Alqur’an, mengartikan beberapa makna dan keterangan yang ada dalam Alqur’an dan beberapa Hadits Himpunan. Syukurnya saya pernah sedikit-sedikit belajar agama di pondok, jadi bisa ikut membantu muda mudi yang ada di kawasan sekitar masjid untuk mendapatkan ilmu agama. Semoga saja apa yang saya sudah berikan bisa bermanfaat.

Ketika pada jadwal pertama saya untuk menyampaikan makna keterangan sudah hampir selesai. Saya mengadakan semacam kuis, satu pertanyaan untuk akhwat dan satu pertanyaan untuk ikhwan. Ketika saya memberikan pertanyaan pada salah seorang ikhwan, dia pun menjawab dengan benar. Sehingga otomatis saya harus memberikan hadiah kepadanya.

Setelah saya turun dari podium, lalu saya hampiri ikhwan tersebut. Dia menolak untuk menerima hadiah dari saya. Namun setelah beberapa saat, saya yakinkan dia untuk menerima hadiah tersebut.

Beberapa saat setelah dia menerima hadiah tersebut. Dia berkata, “Mas, sampeyan lulusan (pondok) kediri ya?”

Saya tersenyum dan saya jawab, “Bukan, saya cuman pernah mondok di PPM.”

Dia malah kelihatan bingung. “PPM apa Mas?”

Saya tertawa. Ternyata memang masih banyak yang belum mengenal PPM. Saya jawab saja dengan bercanda, ” PPM itu Pura-Pura Mondok.” Entah mungkin saat itu dia nanggepin dengan serius. Haha.

Setelah itu kami berdua ngobrol. Tentu tentang pengertian PPM yang sebenarnya, juga saya jelaskan. Takutnya dia beneran nganggep Pura-Pura Mondok. Setelah ngobrol, akhirnya saya tahu nama ikhwan itu adalah Gilang. Dia merupakan siswa di salah satu SMP milik sebuah yayasan yang ada di Gading, Jombang. Jawa Timur. Kebetulan dia sedang liburan.

Selain bersekolah seperti layaknya anak SMP lainnya. Dia juga terdaftar sebagai salah satu santri di Pondok Pesantren Gading yang letaknya sangat dekat dengan SMP tempat ia bersekolah. Sekarang Gilang sudah duduk di kelas 3. Dan yang membuat saya tertarik menulis tentang Gilang ini adalah, dia sudah berstatus sebagai seorang Muballigh di umurnya yang masih sangat muda.

Insya Allah, dia sudah khatam Alqur’an beserta makna dan keterangan. Khatam Hadits himpunan beserta makna dan keterangan. Dan tentu materi penunjang selama dia tinggal di pondok. Saya benar-benar takjub atas pencapaiannya.

Karena sekarang sudah menyandang gelar seorang muballigh muda dan duduk di bangku kelas 3, dia mulai fokus untuk bisa lulus SMP. Setelah lulus SMP pun, Insya Allah katanya dia ingin melanjutkan di SMA yang juga dekat dengan pondok. Katanya, dia mau mengkhatamkan Hadits Besar, antara lain Kitab Shohih Bukhori, Kitab Shohih Muslim, Kitab Ibnu Majah, dll. Semoga Allah paring lancar dan barokah. Saya jadi teringat ketika pernah beberapa waktu di Kediri, saya juga berkenalan dengan remaja seusia Gilang, namun perawakannya kecil sekali. Ia akrab dipanggil Acil, dia juga sama seperti Gilang ini. Yang membedakan, Acil juga mengikuti program Tahfidz Qur’an. Saya membayangkan, suatu saat Acil dan Gilang ini akan menjadi seorang Ulama yang hebat. Semoga.

Selain berkenalan dengan Gilang. Saya juga bertemu dengan beberapa remaja lulusan SMA yang juga santri di Pondok Pesantren Gading. Salah satunya bernama Aji. Selain sudah menyandang gelar Muballigh, dia juga memiliki kemampuan mengajar dengan bahasa inggris. Karena ketika di pondok, dia mengikuti salah satu ekstrakurikuler MTI. Metode Teaching of Islamic, singkatnya belajar agama dengan berbahasa inggris.

Sempat juga saya tanyakan pada Aji, mau lanjut kuliah atau jadi guru ngaji dulu. Jawaban dari dia, mau jadi guru ngaji dulu. Sekalian di tempat yang jauh katanya. Mungkin karena masih muda, jadi dia ingin sekali bisa mengajarkan ilmu yang dimilikinya ke semua orang.

Tidak hanya Gilang dan Aji – yang ternyata mereka berdua adalah saudara kandung – ada banyak lagi lulusan dari Pondok Pesantren Gading di sekitar lingkungan Kekalik Jaya, Mataram.

Namun remaja-remaja hebat ini tidak hanya ada di Mataram. Karena santri yang mondok sekaligus sekolah di sana pun dari berbagai daerah yang ada di Indonesia. Dan setelah mereka lulus, serta menyandang gelar Muballigh. Mereka punya pilihan untuk melestarikan kemurnian agama di seluruh Indonesia. Dan membawa Islam menjadi agama yang rahmatan lil alamin dalam kehidupan sehari-hari yang bukan hanya diucapkan namun benar-benar diamalkan.

Advertisements

2 comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s