jejak

KPP Pratama Sumbawa Besar BerQurban

Idul Adha tahun ini memberikan kesan yang berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Soalnya kali ini saya merayakan Hari Raya Berqurban di kantor definitif saya yang pertama, di Sumbawa Besar.

Ini juga menjadi pengalaman pertama bagi saya berbagi kebahagiaan dengan rekan-rekan pegawai yang mana di tahun-tahun sebelumnya, Idul Adha biasanya saya rayakan bersama teman-teman pondok mahasiswa dan juga warga majelis taklim yang biasa saya ikuti.

Berbeda tentunya dengan perayaan di lingkungan masjid atau lapangan luas yang mungkin bisa menampung beberapa hewan qurban, di kantor kami menggunakan halaman belakang kantor yang seadanya, ya seenggaknya bisa menampung 3 ekor sapi yang siap diqurbankan. 3 ekor sapi hasil dari sumbangan atau sodaqoh beberapa pegawai.

Acara dimulai setelah sholat ied. Sekitar pukul 8 pagi.

Banyak dari pegawai yang datang membawa serta keluarganya. Anak dan istrinya. Kalau saya? mungkin Idul Adha berikutnya, InsyaAllah :mrgreen:

This slideshow requires JavaScript.

 

Meriah. Menyenangkan.

Setelah acara penyembelihan hewan qurban dilanjutkan dengan pembagian daging bagi warga sekitar dan rekan-rekan yang biasa membantu para pegawai di kantor, dan tentu juga bagi para pegawai itu sendiri. Saya sendiri dapat bagian satu kantong daging sapi. Cuman karena daripada berakhir sia-sia, saya berikan kepada rekan yang lain yang sekiranya lebih membutuhkan dan pastinya bisa mengolah daging tersebut. Maklum, anak kosan dengan peralatan masak tidak lengkap. Tidak bisa berbuat banyak, hahaha…

Setelah daging-daging sudah dibagikan. Acara berlanjut ke makan-makan. Ini dia, acara inti -versi saya tentunya :mrgreen:

Gulai (orang sumbawa menyebutnya soto) dan Sate siap disantap. Hahaha…

Advertisements

Akhirnya, Penempatan Itu Datang

Senin, 13 Juli 2015. Sebelum adzan asar berkumandang. Sebuah penantian akhirnya membuahkan hasil. Setelah kurang lebih 9 bulan mengandung rasa penasaran akan dimana saya ditempatkan untuk pertama kalinya sebagai abdi negara, pengumuman penempatan definitif itu akhirnya terupload di SIKKA (salah satu database kepegawaian). Penempatan lulusan DIII STAN tahun 2013 yang mengabdi di DJP merasakan euforia, entah itu suka cita, karena penempatannya sesuai dengan yang diharapkan, ataupun kesedihan yang mendalam karena penempatannya membuat LDR dengan kekasihnya 😛

Saya? Entahlah. Di satu sisi saya sangat bersyukur karena doa saya dikabulkan. Saya memang ingin bertualang, bertemu orang-orang baru, mendapat pelajaran hidup untuk menjadi pribadi yang lebih baik, yang mungkin di tanah dimana saya dibesarkan belum saya dapatkan sepenuhnya. Tapi di sisi lain, sedih juga karena harapan orang tua belum terwujud, penempatan pertama saya bukan di homebase. Dan saya pikir setiap orang tua akan sangat menginginkan anaknya selalu ada di dekatnya. Tapi ada pula saat dimana anak-anaknya pun harus belajar tentang arti kehidupan sesungguhnya, salah satunya dengan menjejak di tanah orang.

SUMBAWA BESAR, BRACE YOURSELF…I’M COMIIIIIIIIING !!!

Direktorat Jumat Penempatan

Saya mendapatkan istilah tersebut secara tidak sengaja di salah satu lini masa milik teman satu angkatan yang statusnya sama dengan saya, anak bawang eh anak magang. Di instansi dimana saya ditempatkan, memang hari jumat selalu punya keunikan tersendiri. Bahkan ada yang menyebutnya Jumat Keramat. Karena pada hari jumat lah biasanya pengumuman mutasi baik untuk pejabat bereselon, maupun kabar penempatan definitif untuk anak magang.

Berarti sudah hampir sekitar 35 sholat jumat berlalu, tapi pengumuman penempatan belum juga ada hilalnya. Sebenarnya saya tidak terlalu mempermasalahkan kapan penempatan diumumkan, toh penempatan menurut saya suatu keniscayaan. Tinggal kita sabar menunggu kapan saat itu tiba.

10952646_10204869475040569_6556476908751820146_n

sumber gambar : IG @tenrizqi

Kantor Tambah Ramai

Pada awal tahun seperti ini kantor memang sedang disibukkan dengan agenda rutin penerimaan SPT tahunan. Jadi kantor mestilah ramai dengan kedatangan wajib pajak untuk menunaikan kewajibannya. Tapi ramai yang saya maksud disini bukan itu aja lho. Jadi senin kemarin, di awal bulan Februari kantor kedatangan anak OJT lagi.

Jumlahnya empat orang. Dua berasal dari penerimaan D1 STAN 2013 yang kampusnya terletak di Balai Diklat Keuangan Denpasar. Namanya Intan dan Wisnu. Dan dua lagi berasal dari penerimaan umum kementerian keuangan baru-baru ini. Ada yang berasal dari S1 UII Yogyakarta, ada juga yang dari D3 Universitas Mataram. Riri dan Ayu.

Bisa dikatakan Intan dan Wisnu yang berasal dari STAN BDK Denpasar ini beruntung tidak harus menunggu selama satu tahun untuk bisa diberdayakan sebagai anak magang di kementerian keuangan. Setelah wisuda, malamnya mereka mendapat kabar terkait TKD, yang mana pada angkatan saya TKD baru datang setelah sekitar hampir setahun masa penantian. Ini dikarenakan pada angkatan saya terdapat kebijakan moratorium PNS (pemberhentian pengangkatan sementara) sedangkan angkatan mereka tidak. Tapi saya justru bersyukur mengalami penundaan selama setahun itu, ada banyak hal yang saya dapatkan. 🙂

Semoga saja kedatangan anak magang ini bisa menjadi amunisi baru di kantor untuk menjadi garda terdepan dalam penerimaan negara untuk Indonesia yang lebih baik.

*tumben closingnya keren* :mrgreen:

Turun ke Lapangan

Giliran seksi ekstensifikasi perpajakan jadi tempat saya untuk belajar tentang bagaimana mekanisme atau standar operasional yang terjadi di seksi tersebut dalam rangkaian kegiatan OJT yang saya lakukan di sebuah kantor pelayananan yang ada di kota Mataram.

Karena awal tahun dan salah satu tugas dari seksi ini membuat DSE atau Daftar Sasaran Ekstensifikasi yang ditujukan untuk mendata masyarakat yang belum memiliki NPWP (Nomor Pokok Wajib Pajak). Fyi, NPWP adalah sebuah identitas perpajakan untuk masyarakat. Dan dengan identitas perpajakan tersebut membuat masyarakat luas bisa ikut berkontribusi untuk memajukan negeri ini.

Saya berkesempatan untuk ikut ke lapangan. Bersama dua orang senior yang juga senior saya ketika tergabung dalam organisasi kedaerahan kampus, KOALA (Komunitas Mahasiswa Lombok Sumbawa).

Tugas kali ini diawali dengan menyambangi salah seorang wp yang memiliki usaha kontraktor rumah. Namun ternyata wajib pajak tersebut sudah tidak tinggal di wilayah tersebut alias pindah. Kok bisa pindah? 😯

Berlanjut ke wp lain. Seorang kontraktor muda. Karena mungkin sama-sama masih muda, mudah sekali menerangkan terkait kewajibannya sebagai kontraktor. Walaupun terlihat agak lemas karena masih dalam kondisi tidak sehat, beliau menyimak dengan seksama.

Perjalanan berikutnya bertemu dengan seorang ibu-ibu paruh baya sedang duduk termenung. Kemudian salah seorang senior saya mendatangi dengan sangat ramah. Menjelaskan kedatangan dan kewajiban ibu tersebut terkait usaha yang dimilikinya. Pertanyaan yang diajukan pun dijawab dengan baik dan “sabar” :mrgreen:. Saya perhatikan bagaimana cara senior menerangkan terkait kewajiban perpajakan kepada wp untuk saya terapkan nantinya.

Dalam rangkaian turun ke lapangan. Senior tidak lupa untuk mengajak sholat karena memang sudah tiba waktunya sholat ashar.

Perjalanan dilanjutkan untuk mengetahui wilayah dimana banyak yang belum terdaftar memiliki NPWP. Yaitu dengan menyusuri wilayah tersebut. Sehingga nantinya bisa dicocokkan dengan database, apakah yang bertempat tinggal atau memiliki usaha di tempat tersebut sudah terdaftar memiliki npwp atau belum.

Tugas pertama saya berakhir jam 6 sore, lewat satu jam dari jam pulang kantor. Walaupun belum terhitung sebagai jam lembur, saya pikir pengalaman pertama yang saya dapatkan tak ternilai harganya. Hehe. 😀

Cerita Senior

Semasa orientasi, saya berada di seksi pengawasan dan konsultasi. Biasa junior seperti saya disuruh membantu administrasi surat masuk. Selama mengadministrasikan tersebut, ada beberapa surat yang sesekali saya perhatikan. Sekalian saya pelajari. Maklum saya memang butuh banyak belajar karena jurusan yang saya dalami ketika kuliah berbeda dengan apa yang saya jumpai sekarang.

Ada surat terkait salah seorang wajib pajak orang pribadi yang memiliki harta kekayaan yang fantastis. Dikatakan fantastis karena pajak yang harus dia bayar mencapai milyaran. Pajaknya saja mencapai milyaran, bagaimana dengan hartanya. 😯

Selang beberapa hari. Saya diikutkan oleh seorang kepala seksi untuk ikut membantu sosialisasi di salah satu kampus swasta yang ada di kota Mataram. Sepulang dari sosialisasi tersebut saya diajak makan siang oleh beberapa senior di salah satu rumah makan.

Ketika makan siang itulah, senior mulai bercerita bagaimana mereka (dua orang) mendatangi wajib pajak yang memiliki harta fantastis tersebut. Senior mulai bercerita siapa sebenarnya wajib pajak tersebut, darimana dia mendapatkan tersebut, dan cerita-cerita lain terkait wajib pajak tersebut.

Cerita yang menarik perhatian saya adalah ketika senior saya mendatangi wajib pajak tersebut dan ketika telah selesai mereka dibawakan beberapa amplop tebal, ya bisa dibilang isinya yo uang :mrgreen:. Namun, dengan sopan senior saya menolaknya. Karena segala bentuk pelayanan yang diberikan kepada wajib pajak tidak dipungut biaya sedikitpun. Herannya wajib pajak tersebut malah kaget, katanya dia baru menemukan lembaga, apalagi  sebesar DJP tidak menerima hal-hal “terimakasih” seperti itu.

Saya benar-benar terkesima dengan cerita senior saya tersebut. Benar kata dosen saya ketika kuliah dulu, integritas adalah hal yang harus dimiliki dalam bekerja. Tanpa integritas, mustahil negeri ini bisa menjadi negeri yang diidam-idamkan oleh seluruh rakyatnya.

On Job Training

Kalau menurut definisi dari sini, On Job Training atau kita singkat jadi OJT yaitu A method of preparing an employee to perform a task by providing them with information about the task, a demonstration of its performance, an opportunity for the employee to imitate the demonstration and subsequent feedback. Many business operators feel that effective job training makes an important contribution to their company’s success.

Jadi secara pengertian yang saya tangkap, ya sama dengan magang. Intinya menyiapkan seorang pegawai baru untuk bekerja dengan mengetahui berbagai tugas terkait pekerjaan dan biasanya langsung mendapat bimbingan dari senior.

Tapi dalam praktek yang diterapkan oleh instansi dimana saya ditempatkan agaknya berbeda.

Terhitung sejak bulan November tahun lalu saya berstatus…duh saya bingung. Dibilang calon pegawai juga belum, karena belum dapat gaji 80%. Tapi anehnya di database sudah disebutkan sebagai pegawai yang diperbantukan. Dan tertulis juga sebagai calon pegawai. Tapi kan belum…ah sudahlah haha, saya tidak terlalu memusingkan status. Toh status jomblo saya juga biasa aja :mrgreen:

Setelah induksi atau pengenalan instansi kementerian di student centre kampus yang langsung dihadiri oleh menteri baru pada tanggal 5 November, siangnya pengumuman penempatan magang keluar. Alhamdulilah saya mendapat penempatan magang yang dekat dengan rumah. Jarak tempuh sekitar 15-20 menit dengan kecepatan normal. Jika dibandingkan dengan beberapa teman saya, saya termasuk yang beruntung bisa dapat penempatan magang di homebase. Mungkin salah satunya karena faktor luar jawa.

Tanggal 10 November lapor ke kantor untuk magang. Diterima dengan sangat baik. Tapi ternyata saya belum bisa dikatakan magang.

Jadi begini, sebelum diangkat menjadi calon pegawai. Saya harus melewati beberapa tahapan. Tahapan pertama, yaitu pada tanggal 10 November – 5 Desember, tahapan itu disebut orientasi. Saya kemudian ditempatkan di salah satu seksi yang membutuhkan. Dan akhirnya menempati seksi Pengawasan dan Konsultasi. Untuk orientasinya sendiri dilakukan oleh kepala Sub Bagian Umum dan kepala seksi Pemeriksaan dan Kepatuhan Internal selama 4 kali pertemuan. Yang dibahas antara lain terkait kode etik, struktur organisasi, prosedur pelaksanaan dll. Selama tidak ada pertemuan untuk orientasi, ya berarti ikut membantu pelaksanaan tugas di seksi dimana ditempatkan.

Nah setelah itu, barulah masuk ke tahap On Job Training atau OJT. Saya memulai masuk ke tahap ini di tanggal 8 Desember. Pertama OJT, saya ditempatkan di seksi Penagihan. Awal masuk langsung bertemu dengan kepala seksi dan diberikan briefing terkait apa saja tupoksi di seksi tersebut.

Selama tahap OJT di setiap seksi nanti akan diberikan masing-masing 4 prosedur pelaksanaan untuk dipelajari dan dilaksanakan sesuai arahan dari kepala seksi. Dan biasanya justru senior yang akan banyak sekali membantu.

Perpindahan selama tahap OJT disepakati 2 minggu sekali. Karena ada 6 seksi yang harus dimasuki maka tahap OJT ini berlangsung kurang lebih selama 3 bulan. Berarti sekitar Februari 2015 akhir, tahap OJT akan selesai. Dan barulah digantikan dengan Magang.

Kalau kata senior, nanti ketika magang akan ditempatkan di salah satu seksi seperti pada awal orientasi, tergantung kebutuhan dan kebijakan kasubag umum. Pada saat magang akan membantu pelaksanaan tugas di seksi dimana ditempatkan. Dan yang bikin deg-degan sembari magang, adalah penantian penempatan definitif.