cerita

Kantor Tambah Ramai

Pada awal tahun seperti ini kantor memang sedang disibukkan dengan agenda rutin penerimaan SPT tahunan. Jadi kantor mestilah ramai dengan kedatangan wajib pajak untuk menunaikan kewajibannya. Tapi ramai yang saya maksud disini bukan itu aja lho. Jadi senin kemarin, di awal bulan Februari kantor kedatangan anak OJT lagi.

Jumlahnya empat orang. Dua berasal dari penerimaan D1 STAN 2013 yang kampusnya terletak di Balai Diklat Keuangan Denpasar. Namanya Intan dan Wisnu. Dan dua lagi berasal dari penerimaan umum kementerian keuangan baru-baru ini. Ada yang berasal dari S1 UII Yogyakarta, ada juga yang dari D3 Universitas Mataram. Riri dan Ayu.

Bisa dikatakan Intan dan Wisnu yang berasal dari STAN BDK Denpasar ini beruntung tidak harus menunggu selama satu tahun untuk bisa diberdayakan sebagai anak magang di kementerian keuangan. Setelah wisuda, malamnya mereka mendapat kabar terkait TKD, yang mana pada angkatan saya TKD baru datang setelah sekitar hampir setahun masa penantian. Ini dikarenakan pada angkatan saya terdapat kebijakan moratorium PNS (pemberhentian pengangkatan sementara) sedangkan angkatan mereka tidak. Tapi saya justru bersyukur mengalami penundaan selama setahun itu, ada banyak hal yang saya dapatkan. 🙂

Semoga saja kedatangan anak magang ini bisa menjadi amunisi baru di kantor untuk menjadi garda terdepan dalam penerimaan negara untuk Indonesia yang lebih baik.

*tumben closingnya keren* :mrgreen:

Cerita Senior

Semasa orientasi, saya berada di seksi pengawasan dan konsultasi. Biasa junior seperti saya disuruh membantu administrasi surat masuk. Selama mengadministrasikan tersebut, ada beberapa surat yang sesekali saya perhatikan. Sekalian saya pelajari. Maklum saya memang butuh banyak belajar karena jurusan yang saya dalami ketika kuliah berbeda dengan apa yang saya jumpai sekarang.

Ada surat terkait salah seorang wajib pajak orang pribadi yang memiliki harta kekayaan yang fantastis. Dikatakan fantastis karena pajak yang harus dia bayar mencapai milyaran. Pajaknya saja mencapai milyaran, bagaimana dengan hartanya. 😯

Selang beberapa hari. Saya diikutkan oleh seorang kepala seksi untuk ikut membantu sosialisasi di salah satu kampus swasta yang ada di kota Mataram. Sepulang dari sosialisasi tersebut saya diajak makan siang oleh beberapa senior di salah satu rumah makan.

Ketika makan siang itulah, senior mulai bercerita bagaimana mereka (dua orang) mendatangi wajib pajak yang memiliki harta fantastis tersebut. Senior mulai bercerita siapa sebenarnya wajib pajak tersebut, darimana dia mendapatkan tersebut, dan cerita-cerita lain terkait wajib pajak tersebut.

Cerita yang menarik perhatian saya adalah ketika senior saya mendatangi wajib pajak tersebut dan ketika telah selesai mereka dibawakan beberapa amplop tebal, ya bisa dibilang isinya yo uang :mrgreen:. Namun, dengan sopan senior saya menolaknya. Karena segala bentuk pelayanan yang diberikan kepada wajib pajak tidak dipungut biaya sedikitpun. Herannya wajib pajak tersebut malah kaget, katanya dia baru menemukan lembaga, apalagi  sebesar DJP tidak menerima hal-hal “terimakasih” seperti itu.

Saya benar-benar terkesima dengan cerita senior saya tersebut. Benar kata dosen saya ketika kuliah dulu, integritas adalah hal yang harus dimiliki dalam bekerja. Tanpa integritas, mustahil negeri ini bisa menjadi negeri yang diidam-idamkan oleh seluruh rakyatnya.